Nyamplung Sumber Energi Alternatif yang Potensial

BBPBPTH (Yogyakarta, 29/10/2014)_Potensi nyamplung (Calophyllum inophyllum L.)  sebagai sumber energi alternatif sangat besar, nyamplung mempunyai produktifitas lebih tinggi dari pada jarak dan kelapa sawit. Tanaman nyamplung dapat menghasilkan biji mencapai 20 ton/ha/tahun, sedangkan jarak hanya 5 ton/ha/tahun dan sawit menghasilkan 6 ton/ha/tahun (Bustoni dkk., 2008).

Biji nyamplung yang mempunyai rendemen minyak paling tinggi dari 7 pulau di Indoensia adalah nyamplung asal Dompu, Nusa Tenggara Barat. Kandungan crude calophyllum oil (CCO) biji nyamplung asal Dompu dapat mencapai 58%, sedangkan dari gunungkidul yang mempunyai rendemen CCO teritinggi di Jawa sebesar 50%. Pada penelitian nyamplung yang dilaksanakan Dr. Budi leksono menggunakan biji nyamplung dari berbagai daerah di Indonesia (Leksono et al., 2014).

 “Tanaman ini cukup potensial karena bukan tanaman pangan, dan lahan untuk pertumbuhannya tidak berkompetisi dengan lahan untuk tanaman pangan, berbeda dengan sawit yang berkompetisi dengan pangan,” kata Dr. Budi Leksono peneliti di Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH), Senin (16/06).

Lebih lanjut Budi mengatakan bahwa penelitian nyamplung ini dilatar belakangi oleh krisis energi dunia yang ditandai dengan melonjaknya harga minyak bumi. Untuk mendorong pengembangan biofuel ini Pemerintah telah mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional sesuai PP No.5/2006 dengan menetapkan target produksi biofuel pada tahun 2025 sebesar 5% dari total kebutuhan energi minyak nasional dan penugasan kepada Departemen Kehutanan untuk berperan dalam penyediaan bahan baku biofuel termasuk pemberian ijin pemanfaatan lahan hutan terutama pada lahan yang tidak produktif.

Namun dengan semakin berkurangnya cadangan minyak bumi dan untuk menghemat devisa negara, maka telah dikeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 25/2013 untuk peningkatan campuran biodisel sebesar 10% mulai tahun 2013 (Tropis, 2014).

“Secara umum penelitian ini adalah untuk menyediakan sumber benih unggul untuk mengembangkan hutan tanaman nyamplung dengan produksi buah dan kualitas biji yang tinggi, serta masa panen buah yang lebih awal,” papar Budi.

Sebaran alami dari nyamplung banyak dijumpai di tepi pantai dan tanaman nyamplung yang telah ditanam sejak 50 tahun yang lalu difungsikan sebagai wind breakeratau pemecah angin agar tanaman palawija dapat tumbuh di tepi pantai selatan.Namun karena jarak tanam yang rapat maka produktivitasnya tidak optimal.

Selain untuk bahan baku biofuel nyamplung juga mempunyai beberapa produk ikutan. Beberapa produk yang dihasilkan oleh nyamplung adalah sebagai bahan baku obat, bahan anti rayap, bahan pengawet ikan atau kayu, briket/arang, sabun, dll.***(MNA)

taken fr : http://www.forda-mof.org